Selasa, 23 September 2014

KEBENARAN 


Definisi Kebenaran 

Kebenaran sebagai sifat pengetahuan disebut kebenaran epistemologi.
Lawan dari kebenaran adalah salah.
Secara umum kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipikirkan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya. 
Suatu pengetahuan atau pernyataan disebut benar jika sesuai dengan kenyataan.
dengan demikian kenyataan menjadi suatu ukuran penentu penilaian.

Kata Yunani untuk kebenaran adalah aletheia. 
Pengertian Plato tentang kebenaran secara etimologi bahwa aletheia berarti 
"Karaktersembunyiaan adanya" atau "ketersingkapan adanya". 




Plato

Menurut Plato bahwa selama kita terikat pada "yang ada" dan tidak masuk pada 
'adanya dari yang ada" kita belum berjumpa dengan kebenaran karena "adanya" itu masih tersembunyi. 
Baru ketika selubung yang menutupi itu "semua yang ada" itu disingkapkan sehingga terlihat oleh mata batin kita maka terbukalah "adanya" atau bertemulah kita dengan kebenaran.

Kebenaran dalam konsep Plato dimengerti sebagai terletak pada objek yang diketahui.
Menurut Plato bahwa kebenaran sebagai ketidaktersembunyiaan adanya itu tidak dapat dicapai manusia selama hidupnya didunia ini.

~Konsep tidak dapat dinilai benar atau salah, betul atau keliru. konsep hanya bisa dinilai jelas dan terpilah atau kabur, memadai atau tidak memadai. 

~Persepsi tidak dapat disebut benar atau salah, yang bisa disebut benar atau salah adalah isi pernyataan tentang apa yang dipersepsikannya. Yang bisa benar atau salah adalah orang yang mepersepsikannya.

Berbeda dengan Plato, Aristoteles dalam memahami kebenaran lebih memusatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subjek penahu ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif (menegaskan atau menguatkan) atau negatif.

Menurut kaum Positivisme Logis bahwa kebenaran dibedakan menjadi 2 yaitu :

   1) Kebenaran Faktual : kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual didunia nyata sebagaimana dialami manusia (yang biasanya diukur dengan dapat atau tidaknya secara inderawi)

   2) Kebenaran Nalar : kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia tetapi dapat menjadi sarana yang berdaya guna untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang dunia ini. kebenaran nalar dapat membantu untuk memperoleh kebenaran faktual. kebenaran nalar sebagai kebenaran dalam logika dan matematika kebenarannya di dasarkan pada penyimpulan deduktif.

Kebenaran Nalar berbeda dengan kebenaran faktual yang bersifat nisbi (hanya terlihat ketika dibandingkan dengan yang lain tidak mutlak dan relatif) dan Mentak (mungkin, belom pasti) sedangkan kebenaran nalar bersifat mutlak dan tidak niscaya (tentu, pasti).


Selain kedua jenis kebenaran yang diungkapkan oleh kaum positivis logis mengikuti Thomas Aquinas maka kebenaran dibedakan menjadi 2 yaitu :

  1) Kebenaran Ontologis (Veritas Ontologica) merupakan kebenaran yang terdapat dalam kenyataan entah spiritual atau material yang meskipun kemungkinan untuk diketahui.
misalnya : kebenaran tentang adanya segala sesuatu sesuai hakikatnya, kebenaran tentang adanya Tuhan, kebenaran tentang keabdian jiwa.

  2) Kebenaran Logis (Veritas Logica) sebagai kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia si penahu dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan. 

KESAHIHAN dan KEKELIRUAN

~Kekeliruan perlu dibedakan dengan kesahihan
~Pada umumnya kekeliruan berarti menerima sebagai benar apa yang dinyatakan salah atau menyangkal apa yang senyatanya benar.

~Kekeliruan adalah segala sesuatu yang menyangkut tindakan kognitif subjek penahu sedangkan kesalahan adalah hasil dari tindakan tersebut.
~Kekeliruan muncul akibat kegagalan dalam mengidentifikasi bukti yang tepat, menganggap bukti sudah mencukupi padahal belum atau sebaliknya menganggap bukti belum cukup padahal sudah.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekeliruan misalnya :
1. Sikap terburu buru dan kurang perhatian dalam salah satu tahap atau keseluruhan proses kegiatan mengetahui.
2. Sikap takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap terlalu gegabah dalam melangkah. sikap pertama menyebabkan orang menganggap belum cukup bukti untuk dapat menerima kebenaran padahal sebenarnya sudah cukup sedangkan sikap yang kedua terlalu cepat merasa cukup menegaskan benar atau salah padahal belum cukup bukti.

sudah dulu yaaaa, dilanjutkan besokkk, babayyy...
jangan lupa dikomen yaaa ;)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar